Scroll untuk baca artikel
Opini

Women in Education: Sebuah Risalah

86
×

Women in Education: Sebuah Risalah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Melva Amrin

Pendidikan bukan sekadar hak. Education is a gateway sebuah gerbang yang membuka jalan bagi perempuan untuk menemukan potensi sejatinya, memahami dunia, dan menyiapkan diri menghadapi kehidupan dengan penuh kesadaran dan percaya diri. Kata “pendidikan” berasal dari kata “didik”, yang berarti membimbing, mengasuh, dan membentuk manusia agar tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan bermanfaat, bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi masyarakat luas. Karena itu, pendidikan tidak seharusnya dipandang semata sebagai proses akademik, melainkan sebagai perjalanan pembentukan karakter, akal, dan nurani. Bagi saya, pendidikan lebih dari sekadar gelar atau nilai ia adalah fondasi cara berpikir, cara bersikap, dan cara memberi arti pada hidup.

Perempuan dan pendidikan memiliki hubungan yang sangat mendasar. Dalam perspektif Islam, hak perempuan untuk menuntut ilmu ditegaskan secara jelas. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan” (HR. Ibnu Majah). Hadits ini tidak memberikan pengecualian, tidak memberi batasan, dan tidak membedakan jenis kelamin. Artinya, akses terhadap ilmu adalah hak spiritual sekaligus tanggung jawab intelektual bagi setiap manusia. Dalam sejarah peradaban Islam, banyak perempuan tampil sebagai tokoh ilmu pengetahuan, guru, dan pemikir. Aisyah R.A., istri Rasulullah SAW, dikenal sebagai salah satu perawi hadits terbesar dan rujukan keilmuan bagi para sahabat. Ribuan hadits diriwayatkan darinya, dan banyak persoalan hukum serta sosial dijelaskan melalui pemahamannya. Ia bukan hanya pelajar, tetapi pengajar dan pemimpin intelektual.

Contoh lain adalah Fatimah Al-Fihri, pendiri Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko pada abad ke-9, yang diakui sebagai salah satu universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga kini. Fakta bahwa seorang perempuan mendirikan pusat pendidikan tinggi lebih dari seribu tahun lalu menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar bagian dari sejarah pendidikan mereka adalah arsiteknya. They were not just learners, they were leaders. Kisah-kisah ini membantah anggapan bahwa peran perempuan dalam pendidikan adalah konsep baru. Justru sejak awal, perempuan telah menjadi penggerak peradaban melalui ilmu.

Education empowers women. Pendidikan memberi perempuan kemampuan untuk berpikir kritis, mengambil keputusan mandiri, dan menyuarakan pandangan dengan percaya diri. Dengan pendidikan, perempuan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pengolah gagasan dan pencipta solusi. Mereka mampu memahami haknya, menjaga martabatnya, serta berpartisipasi aktif dalam ruang sosial, ekonomi, dan politik. Perempuan berpendidikan cenderung memiliki kesadaran kesehatan yang lebih baik, kemampuan pengelolaan keluarga yang lebih kuat, serta kontribusi sosial yang lebih luas. Dampaknya tidak berhenti pada individu, tetapi menurun kepada generasi berikutnya.

Seorang ibu yang berpendidikan, misalnya, berperan besar dalam membentuk budaya belajar di rumah. Ia menjadi guru pertama, sumber nilai, dan teladan berpikir bagi anak-anaknya. Dari sinilah kualitas masyarakat dibangun secara perlahan namun pasti. Pendidikan perempuan bukan hanya investasi personal, melainkan investasi sosial jangka panjang. Ketika satu perempuan memperoleh pendidikan yang layak, satu keluarga ikut terangkat; ketika banyak perempuan terdidik, satu bangsa bergerak maju.

Namun realitas masa kini menunjukkan bahwa tidak semua perempuan memiliki akses pendidikan yang adil. Di berbagai tempat, hambatan ekonomi, budaya, dan struktural masih membatasi ruang belajar perempuan. Ada yang harus berhenti sekolah karena tekanan sosial, pernikahan dini, atau keterbatasan fasilitas. Ada pula yang mendapat kesempatan, tetapi tidak memperoleh dukungan lingkungan. Tantangan ini membuat perjuangan pendidikan perempuan belum selesai. Karena itu, setiap langkah belajar setiap buku yang dibuka, setiap kelas yang diikuti, setiap diskusi yang dihidupkan adalah bentuk perlawanan terhadap keterbatasan dan bentuk harapan terhadap masa depan.

Ilmu sering diibaratkan sebagai cahaya. Fatimah Al-Fihri pernah dikaitkan dengan ungkapan bahwa ilmu adalah cahaya yang menuntun manusia dalam gelap. Jika demikian, maka perempuan berpendidikan bukan hanya penerima cahaya, tetapi sumber cahaya itu sendiri. Mereka menerangi keluarga dengan kebijaksanaan, menerangi masyarakat dengan kontribusi, dan menerangi bangsa dengan pemikiran. Cahaya itu tidak selalu tampil dalam sorotan besar; kadang ia hadir dalam bentuk sederhana guru di desa, ibu yang membacakan buku, mentor yang membimbing, atau mahasiswi yang berani bermimpi besar.

Mari kita memastikan bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan untuk belajar tanpa takut, bermimpi tanpa batas, dan tumbuh tanpa hambatan. Dukungan keluarga, kebijakan yang adil, lingkungan yang aman, dan budaya yang menghargai ilmu adalah kunci untuk mewujudkannya. Pendidikan perempuan bukan sekadar program pembangunan, tetapi komitmen moral dan peradaban. Because when women learn, families grow stronger, communities become wiser, and the world shines brighter.

Pada akhirnya, pendidikan bagi perempuan bukan hanya hak atau kewajiban. Ia adalah amanah, cahaya, dan harapan. Amanah untuk memanfaatkan potensi akal yang diberikan Tuhan. Cahaya untuk menuntun langkah dalam kehidupan. Harapan untuk masa depan yang lebih adil, lebih terbuka, dan lebih bermartabat. Jika kita ingin melihat dunia yang lebih baik, maka salah satu jalan paling pasti adalah memastikan perempuan belajar sepenuhnya, setara, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *