Scroll untuk baca artikel
Opini

Masyarakat Sula dan Tradisi Lom Poa Du Hoi

59
×

Masyarakat Sula dan Tradisi Lom Poa Du Hoi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mohtar Umasugi

Di Kepulauan Sula, adat bukan sekadar pelengkap seremoni, melainkan fondasi cara hidup. Di antara sekian banyak nilai yang diwariskan leluhur, ada satu tradisi yang terus bertahan di tengah perubahan zaman: Lom Poa Du Hoi.

Secara leterleg, Lom berarti kumpul, Poa berarti darah, dan Du Hoi berarti dan tulang. Secara istilah, ia bermakna pertemuan keluarga sedarah, darah dan tulang untuk kepentingan bersama: pernikahan, dukungan mengikuti tes TNI maupun Polri, pendidikan, serta kebutuhan finansial lain yang memerlukan solidaritas kolektif.

Tradisi ini bukan sekadar pertemuan keluarga. Ia adalah institusi sosial yang hidup, tumbuh, dan bekerja dalam kesadaran kolektif masyarakat Sula—baik yang menetap di kampung halaman maupun yang tersebar di perantauan.

Dalam perspektif antropologi budaya, Lom Poa Du Hoi mencerminkan kuatnya struktur kekerabatan genealogis dalam masyarakat Sula. Ikatan darah bukan hanya identitas biologis, tetapi menjadi sumber legitimasi sosial dan moral. Seseorang tidak berdiri sebagai individu yang otonom sepenuhnya, melainkan sebagai bagian dari jejaring keluarga besar.

Ketika seorang anak hendak menikah, keluarga besar berkumpul. Mereka membicarakan mahar, biaya pesta, pembagian tanggung jawab, hingga penyelesaian hal-hal teknis. Tidak jarang, beban finansial yang berat menjadi ringan karena dipikul bersama.

Begitu pula ketika seorang pemuda atau pemudi hendak mengikuti seleksi TNI atau Polri. Biaya administrasi, perjalanan, hingga kebutuhan penunjang lain ditanggung secara kolektif. Dalam konteks ini, Lom Poa Du Hoi berfungsi sebagai mekanisme redistribusi ekonomi tradisional, sebuah sistem jaminan sosial berbasis keluarga.

Di tengah terbatasnya akses permodalan formal atau bantuan negara, tradisi ini menjadi bantalan sosial (social safety net) yang efektif.

Secara sosiologis, tradisi ini dapat dibaca sebagai bentuk modal sosial. Ia mengandung unsur kepercayaan (trust), norma timbal balik (reciprocity), dan solidaritas. Siapa yang hari ini dibantu, suatu saat akan membantu. Ada siklus moral yang tak tertulis namun mengikat kuat.

Modal sosial seperti ini sangat penting dalam masyarakat kepulauan yang secara geografis terpisah-pisah. Solidaritas menjadi energi untuk menjaga kohesi sosial. Tanpa itu, masyarakat mudah terfragmentasi oleh jarak, kepentingan, dan perbedaan status sosial.

Yang menarik, di perantauan tradisi ini tidak hilang. Warga Sula yang tinggal di Ternate, Ambon, Makassar, hingga Jakarta tetap mempraktikkan Lom Poa Du Hoi dalam bentuk yang lebih adaptif. Pertemuan keluarga mungkin dilakukan di rumah kontrakan sederhana, atau bahkan melalui komunikasi digital. Transfer bantuan bisa lewat rekening, tetapi semangatnya tetap sama, darah dan tulang tidak boleh tercerai.

Diaspora Sula justru memperlihatkan bahwa tradisi ini bersifat lentur. Ia mampu menyesuaikan diri dengan modernitas tanpa kehilangan esensi.

Lom Poa Du Hoi juga berkaitan erat dengan konsep malu dan harga diri kolektif. Dalam kultur Sula, kegagalan seorang anggota keluarga sering kali dirasakan sebagai kegagalan bersama. Sebaliknya, keberhasilan satu orang menjadi kebanggaan kolektif.

Karena itu, keluarga merasa berkewajiban untuk memastikan anggotanya tidak jatuh sendirian. Ada tanggung jawab moral untuk menopang, menguatkan, dan mengantar hingga berhasil.

Nilai ini sejalan dengan prinsip gotong royong dalam budaya Nusantara, tetapi memiliki kekhasan pada basis genealogis yang sangat kuat. Ikatan darah menjadi legitimasi utama untuk bergerak bersama.

Namun, seperti tradisi lainnya, Lom Poa Du Hoi menghadapi tantangan zaman.

Pertama, meningkatnya individualisme akibat pendidikan dan urbanisasi dapat mengendurkan ikatan kolektif. Generasi muda yang hidup di kota besar kadang mulai melihat kontribusi keluarga sebagai beban, bukan kehormatan.

Kedua, tekanan ekonomi yang semakin kompleks bisa membuat solidaritas melemah. Ketika banyak anggota keluarga berada dalam kondisi sulit secara bersamaan, kemampuan untuk saling menopang pun berkurang.

Ketiga, ada risiko reduksi makna. Tradisi yang semula berbasis ketulusan bisa berubah menjadi kewajiban formal yang dijalankan tanpa ruh kebersamaan.

Di sinilah diperlukan kesadaran baru, bahwa Lom Poa Du Hoi bukan sekadar mekanisme pengumpulan dana, tetapi ruang musyawarah, pendidikan nilai, dan pembentukan karakter kolektif.

Bagi saya, Lom Poa Du Hoi adalah identitas kultural masyarakat Sula yang patut dirawat. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak semata tentang pencapaian personal, tetapi tentang keberhasilan bersama.

Di tengah dunia yang makin kompetitif dan cenderung individualistik, tradisi ini justru menawarkan pelajaran penting: solidaritas adalah kekuatan. Keluarga bukan hanya tempat kembali, tetapi juga sumber energi untuk melangkah.

Baik di kampung halaman maupun di rantau, masyarakat Sula perlu terus menjaga ruh Lom Poa Du Hoi, menjadikannya sebagai wadah saling menguatkan, bukan sekadar rutinitas adat.

Karena pada akhirnya, darah dan tulang bukan hanya metafora kekerabatan. Ia adalah simbol bahwa kita terikat oleh sejarah yang sama, harapan yang sama, dan masa depan yang ingin dibangun bersama.

Dan selama Lom Poa Du Hoi tetap hidup dalam kesadaran kolektif, selama itu pula jati diri masyarakat Sula akan tetap kokoh di tengah gelombang perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *