Oleh: Ahkam Kurniawan Buamona
Di tengah derasnya arus digitalisasi jurnalisme menghadapi babak baru yang tak terelakkan. Disrupsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini bukan sekadar alat bantu, melainkan kekuatan transformatif yang mengubah cara berita diproduksi, didistribusikan, bahkan dikonsumsi publik. Kehadiran AI ini ibarat pisau bermata dua, menawarkan kecepatan transformasi informasi sekaligus menantang nilai-nilai dasar jurnalisme.
Disrupsi AI bukan lagi sebatas isu masa depan. Ia telah menjadi realitas hari ini bahwa algoritma mungkin mampu menulis dan merangkum sebuah peristiwa dan mengolah laporan dalam hitungan detik. Namun pertanyaannya bukan sekadar apakah AI akan menggantikan jurnalis, melainkan sejauh mana jurnalisme mampu menjaga integritas, etika, dan keberpihakan pada kepentingan publik di tengah kompleksitas buatan pikiran ini.
Secara praktis, AI telah membawa efisiensi signifikan dalam kerja jurnalistik. Pengolahan big data, pengecekan fakta awal, transkripsi wawancara, hingga personalisasi konten kini dapat dilakukan lebih cepat. Dalam konteks media daring, kecepatan menjadi mata uang utama dan AI menjawab tuntutan itu. Namun disisi lain kita dibuat lumpuh dalam berpikir.
Faktanya efisiensi tidak selalu sejalan dengan kualitas. Jurnalisme bukan sekadar soal cepat tayang, tetapi tentang ketepatan, kedalaman, dan keberanian moral. AI bekerja berdasarkan pola dan data masa lalu, sementara jurnalisme menuntut sensitivitas konteks, empati sosial, serta intuisi etik. Saya menyebutnya hal-hal yang sampai saat ini masih menjadi domain manusia.
Saat ini kita harus akui bahwa AI tak hanya menentukan algoritma dan isu yang layak naik ke permukaan berdasarkan traffic dan tren. Akan tetapi resiko tergerusnya fungsi pers sebagai pengawas kekuasaan (watchdog) juga tak luput. Banyak dari kita hari ini tidak sedang hanya menulis berita. Kritisme wartawan yang melawan sudah menjadi bagian dari keasingan kebijakan bahkan sesama insan. Berita kritis disisihkan, digantikan dengan konten sensasional yang ramah namun miskin makna.
Bagi saya AI adalah ancaman serius, bias dari disinformasi dan tantangan terbesar dalam jurnalisme. AI tidak hanya memudahkan, tetapi menjadi jalan mundur bagi pers dengan pikiran yang tidak netral.
Sebagai jurnalis, saya dan kita semua yang setiap detiknya disibukkan dengan kegiatan menata haruf-huruf mati untuk menjadi hidup dengan sebuah fakta. Saya percaya suatu hal bahwa memilih jalan jurnalis bukan hanya untuk menuliskan informasi. Kita sejatinya adalah pendidik dan pengarah. AI mungkin benar dapat mempercepat penyebaran informasi tetapi juga bisa menjadi deepfake yang tidak hanya memanipulasi suara dan visual tetapi juga fakta dan kebenaran.
Jurnalisme tidak selalu tentang berita. Jurnalisme adalah keberanian berpikir. Pramoedya Ananta Toer memandang jusnalisme bukan sekedar aktivitas melaporkan berita, melainkan sebagai alat perjuangan, pendidikan politik dan pembelaan terhadap kaum tertindas. Bagi Pramoedya, dalam bumi manusia, seorang jurnalisme harus adil secara pikiran dan perbuatan.
Saya setuju kata Pak Tirto Adhi Soerjo, bapak jurnalis tanah air kita bahwa pers harus berpihak pada kebenaran dan keadilan. Pers harus bertindak sebagai pengawal pikiran umum serta menjadi sarana memajukan bangsa bukan sebaliknya hanya mencari untung lewat artikel berita.
Karena itu juga bawa ketika kita menolak AI secara total adalah sikap naif. Sebaliknya, menerima AI tanpa kontrol adalah kelalaian, jalan tengahnya adalah adaptasi kritis. Media harus memposisikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti peran jurnalis dan pikiran serta keberanian dalam menulis.
Dalam konteks ini, peningkatan literasi digital jurnalis menjadi keharusan. Sebagai wartawan saat ini kita tidak hanya dituntut piawai menulis dan meliput, tetapi juga memahami cara kerja algoritma serta dampaknya terhadap opini publik.
Pada akhirnya, jurnalisme bukan sekadar industri konten berita melainkan institusi sosial yang memikul tanggung jawab moral. Di tengah disrupsi AI, peran ini justru semakin penting karena ketika banjir informasi tidak terbendung, publik membutuhkan jurnalisme yang mampu menyaring, menjelaskan, dan memberikan makna.
Sebab, AI tidak memiliki nurani. Ia tidak memahami penderitaan korban, tidak merasakan ketidakadilan dan tidak memiliki keberanian untuk melawan kekuasaan yang menyimpang, semua itu adalah kerja manusia yakni jurnalis.
Karena itu masa depan jurnalis tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, melainkan seberapa kuat komitmen kita dalam menulis kebenaran.
Sebagai wartawan yang disibukkan dengan menulis. Bagi saya disrupsi AI harus kita jadikan refleksi bahwa titik puncak dari akal pikiran manusia sedang disensor transformatif. Sekali lagi bahwa wartawan bukan hanya tentang penyampai informasi publik, wartawan adalah insan yang berani sajak dalan pikiran dan bertindak.










