Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Aktivisme Berbasis Akademik: Catatan seorang Mahasiswa

27
×

Aktivisme Berbasis Akademik: Catatan seorang Mahasiswa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mohtar Umasugi

kuliah adalah fase yang selalu saya kenang dengan rasa syukur sekaligus keharuan. Ia bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi proses pembentukan watak, disiplin, dan kesadaran sosial. Dari ruang kelas, lorong kampus, hingga forum-forum diskusi, saya belajar bahwa menjadi mahasiswa adalah tentang bagaimana mengelola mimpi di tengah keterbatasan dan tanggung jawab.

banner 728x90

Saya mengalami sendiri hari-hari sederhana yang tidak selalu mudah. Ketika kiriman dari orang tua di kampung belum tiba, sementara kebutuhan hidup tak bisa menunggu, kesabaran menjadi ujian harian. Namun justru dari kondisi itulah saya memahami satu hal penting: mimpi besar tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari keteguhan menghadapi keadaan.

Di tengah proses perkuliahan, saya memilih terlibat aktif dalam organisasi, baik secara eksternal sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), maupun secara internal sebagai pengurus Senat Mahasiswa (kini BEM). Bagi saya, organisasi bukan ruang pelarian dari kelas, tetapi ruang pendewasaan yang melengkapi proses akademik. HMI menempa nilai dan keberanian berpikir, sementara Senat/BEM melatih tanggung jawab dan kepemimpinan yang aplikatif.

Selain itu, saya bersama beberapa kawan membentuk study club sebagai ikhtiar membangun tradisi intelektual. Study club menjadi ruang pengayaan keilmuan, tempat teori diperdebatkan, gagasan diuji, dan nalar diasah. Semua ini saya posisikan sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan, “kuliah sebagai fondasi, organisasi sebagai penopang, dan diskusi sebagai penggerak kesadaran”.

Namun ada satu prinsip yang sejak awal saya pegang teguh dan ingin saya wariskan kepada adik-adik mahasiswa hari ini, jika agenda organisasi bertabrakan dengan jadwal perkuliahan, maka perkuliahan harus didahulukan. Prinsip ini bukan bentuk anti-aktivisme, melainkan etika dasar mahasiswa. Sebab, tidak ada aktivisme yang bermartabat tanpa disiplin akademik.

Kepada adik-adik mahasiswa, saya ingin berbagi pelajaran sederhana, jangan tergoda mengukur kualitas diri dari seberapa sibuk agenda organisasi atau seberapa banyak jabatan yang disandang. Ukurlah dari seberapa konsisten kalian menjalankan peran utama sebagai mahasiswa. Aktiflah berorganisasi, bangun diskusi, dan asah kepemimpinan, tetapi tetap hormati ruang kelas sebagai sumber legitimasi intelektual.

Menjadi tokoh mahasiswa bukan berarti meninggalkan kewajiban akademik demi popularitas forum. Ia justru menuntut keteladanan datang kuliah tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan jujur, dan menjaga integritas di tengah dinamika organisasi. Dari situlah kepercayaan lahir, dan dari kepercayaan itulah kepemimpinan tumbuh.

Kini, ketika masa kuliah telah berlalu, saya semakin yakin bahwa keseimbangan antara akademik dan aktivisme adalah kunci. HMI, Senat/BEM, dan study club telah memberi saya pelajaran berharga, tetapi perkuliahanlah yang menjaga arah. Maka, mimpi menjadi tokoh mahasiswa sejatinya adalah mimpi untuk menjadi pribadi yang utuh, cerdas secara intelektual, matang secara sosial, dan teguh secara moral.

Oleh: Mohtar Umasugi

Masa kuliah adalah fase yang selalu saya kenang dengan rasa syukur sekaligus keharuan. Ia bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi proses pembentukan watak, disiplin, dan kesadaran sosial. Dari ruang kelas, lorong kampus, hingga forum-forum diskusi, saya belajar bahwa menjadi mahasiswa adalah tentang bagaimana mengelola mimpi di tengah keterbatasan dan tanggung jawab.

Saya mengalami sendiri hari-hari sederhana yang tidak selalu mudah. Ketika kiriman dari orang tua di kampung belum tiba, sementara kebutuhan hidup tak bisa menunggu, kesabaran menjadi ujian harian. Namun justru dari kondisi itulah saya memahami satu hal penting: mimpi besar tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari keteguhan menghadapi keadaan.

Di tengah proses perkuliahan, saya memilih terlibat aktif dalam organisasi, baik secara eksternal sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), maupun secara internal sebagai pengurus Senat Mahasiswa (kini BEM). Bagi saya, organisasi bukan ruang pelarian dari kelas, tetapi ruang pendewasaan yang melengkapi proses akademik. HMI menempa nilai dan keberanian berpikir, sementara Senat/BEM melatih tanggung jawab dan kepemimpinan yang aplikatif.

Selain itu, saya bersama beberapa kawan membentuk study club sebagai ikhtiar membangun tradisi intelektual. Study club menjadi ruang pengayaan keilmuan, tempat teori diperdebatkan, gagasan diuji, dan nalar diasah. Semua ini saya posisikan sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan, “kuliah sebagai fondasi, organisasi sebagai penopang, dan diskusi sebagai penggerak kesadaran”.

Namun ada satu prinsip yang sejak awal saya pegang teguh dan ingin saya wariskan kepada adik-adik mahasiswa hari ini, jika agenda organisasi bertabrakan dengan jadwal perkuliahan, maka perkuliahan harus didahulukan. Prinsip ini bukan bentuk anti-aktivisme, melainkan etika dasar mahasiswa. Sebab, tidak ada aktivisme yang bermartabat tanpa disiplin akademik.

Kepada adik-adik mahasiswa, saya ingin berbagi pelajaran sederhana, jangan tergoda mengukur kualitas diri dari seberapa sibuk agenda organisasi atau seberapa banyak jabatan yang disandang. Ukurlah dari seberapa konsisten kalian menjalankan peran utama sebagai mahasiswa. Aktiflah berorganisasi, bangun diskusi, dan asah kepemimpinan, tetapi tetap hormati ruang kelas sebagai sumber legitimasi intelektual.

Menjadi tokoh mahasiswa bukan berarti meninggalkan kewajiban akademik demi popularitas forum. Ia justru menuntut keteladanan datang kuliah tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan jujur, dan menjaga integritas di tengah dinamika organisasi. Dari situlah kepercayaan lahir, dan dari kepercayaan itulah kepemimpinan tumbuh.

Kini, ketika masa kuliah telah berlalu, saya semakin yakin bahwa keseimbangan antara akademik dan aktivisme adalah kunci. HMI, Senat/BEM, dan study club telah memberi saya pelajaran berharga, tetapi perkuliahanlah yang menjaga arah. Maka, mimpi menjadi tokoh mahasiswa sejatinya adalah mimpi untuk menjadi pribadi yang utuh, cerdas secara intelektual, matang secara sosial, dan teguh secara moral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *